Category Archives: History

Mengapa Aceh di sebut serambi Mekkah?

Negeri Aceh pada abad ke 15 M pernah mendapat gelar yang sangat terhormat dari umat Islam nusantara. Negeri ini dijuluki “Serambi Makkah” sebuah gelar yang penuh bernuansa keagamaan, keimanan, dan ketaqwaan. Menurut analisis pakar sejarawan, ada 5 sebab mengapa Aceh menyandang gelar mulia itu. Continue reading →

Akankah Ayasofya Kembali Menjadi Mesjid ?!

Bulan Ramadan adalah bulan yang disambut dengan penuh kegembiraan oleh semua penduduk muslim di dunia  begitu juga dengan penduduk Turki. Rata- rata pada malam hari mesjid-mesjid penuh dengan para jamaah yang ingin melaksanakan shalat tarawih.

Pada malam kedua  shalat tarawih, saya menjatuhkan pilihan untuk melaksakan shalat tarawih di Mesjid  Sultan Ahmed. Mesjid Sultan Ahmed (Turkish: Sultanahmet Camii) adalah sebuah masjid bersejarah di Istanbul, kota terbesar di Turki dan ibukota Kekaisaran Ottoman (1453-1923). Masjid ini juga dikenal sebagai Masjid Biru. Hal ini dikarenakan oleh ubin biru yang menghiasi dinding interior.

Letaknya sekitar 20 menit dari asrama tempat saya tinggal, perjalanan ke sana menggunakan tranvay atau kereta listrik. Mesjid ini juga banyak dikunjungi oleh para turis – turis yang berkunjung dari  berbagai negara, dan dijadikan salah satu tempat kunjungan favorit karena memiliki arsitektur yang mempesona.

Di Mesjid Biru ini juga terdapat kenangan yang sangat berkesan bagi saya, dimana pada tahun pertama saya tinggal di Istanbul saya sempat berjumpa dengan Perdana Mentri Turki Receb Tayyib Erdogan. Saya bertatap muka bahkan sempat berjabat tangan dengan beliau waktu itu. Continue reading →

Asal nama Atjeh/Aceh

Aceh merupakan sebuah nama dengan berbagai legenda. Berikut beberapa mitos tentang nama Aceh yang dirangkum dari berbagai catatan lama.

Menurut H. Muhammad Said (1972), sejak abad pertama Masehi, Aceh sudah menjadi jalur perdagangan internasional. Pelabuhan Aceh menjadi salah satu tempat singgah para pelintas. Malah ada di antara mereka yang kemudian menetap. Interaksi berbagai suku bangsa kemudian membuat wajah Aceh semakin majemuk.
Muhammad Said mengutip keterangan dari catatan Thomas Braddel yang menyebutkan, di zaman Yunani, orang-orang Eropa mendapat rempah-rempah Timur dari saudagar Iskandariah, Bandar Mesir terbesar di pantai Laut Tengah kala itu. Tetapi, rempah-rempah tersebut bukanlah asli Iskandariah, melainkan mereka peroleh dari orang Arab Saba.

Orang-orang Arab Saba mengangkut rempah-rempah tersebut dari Barygaza atau dari pantai Malabar India dan dari pelabuhan-pelabuhan lainnya. Sebelum diangkut ke negeri mereka, rempah-rempah tersebut dikumpulkan di Pelabuhan Aceh. Continue reading →