DARI SUDAN KE TURKI: Menilik Gelagat Aktifis Kelompok Pelajar Indonesia Turki

Oleh: A.Rahman

Berkata Kalilah kepada Dimnah:
“Saya heran lihat keledai itu, sudah bebannya berat, di tambah lagi.”

Dimnah: “haha.. lebih heran lagi kerbau di kampuang sebelah sana, sudah bebannya berat, bebannya belum habis, diambil lagi beban si lembu.”

Kalilah: benaran?

Dimnah: ia dong.. Tapi lebih heran lagi beberapa pelajar Indonesia di Turki sudah bebannya berat, gak habis-habis, diambil lagi beban orang lain yang sebenarnya gak berarti. Sudah masalahnya berat, banyak dan gak habis-habis, diambil pula masalah orang lain yang sebenarnya gak begitu berharga untuk dipermasalahkan.

Kalilah: emang gimana ceritanya?

***

Berkata Shohib’ul-hikayah:

Dahulu, di perkuliahan, ketika ditugasi menulis catatan-catatan perjalanan selama di Turki, salah satu point yang saya tulis adalah banyaknya jemaah di Turki, dan adanya perseteruan antara jemaah-jemaah tersbut, ditambah dengan merembesnya permasalahan tersebut di kalangan pelajar Indonesia yang berafiliasi kepada jemaah-jemaah tersebut.

“Bagus”, kata dosennya. “Kalian harus mempunyai sensitifitas sosial seperti itu.”

Perseteruan yang dimunculkan antara anak-anak pasiad dan geng bab-i alem, sebenarnya berakar kepada perseteruan antara jemaah Hocaefendi dengan Milligörüs. Perseteruan yang lebih bersifat politis antara Erbakan dan Gülen. Erbakan, dari awal kiprahnya di politik pun sudah mengambil garis anti imperialis Amerika, sedangkan Gülen mengambil garis light islam. Milligörüs mengadopsi pemikiran ikhwanul muslimin, Hocaefendi berbasis risale-i nur.

Saya berkenalan dengan Jemaah nur ketika di Sudan dan berkesempatan menelaah paling tidak 2/3 Risale-i nur. Kelompok jemaah nur yang saya kenal mengatakan bahwa mereka lah jemaah penerus yang sah. Kemudian di urutan kedua adalah Jemaah yang dipimpin Mustafa sunggur. Selain itu, sebanrnya bukan Jemaah rosailnur yang bersilsilah, tapi Jemaah yang sedianya sudah ada, lalu mengadopsi rosailnur menjadi bacaan wajibnya. Awal perpecahan adalah antara Hüsrev dan Sunggur, mengenai masalah khilafah dan mencetak rosailnur dalam huruf latin (yang disebut Said Nursi sebagai bid’ah). Sehingga, ada beberapa risalah yang belum dicetak oleh Jemaah lain, yang hanya dibaca oleh Jemaah ini.

Risale-i nur, menurut saya adalah buku yang bagus, buku tawhid “ilmu kalam” dalam formula modern. Sebuah model yang diharapkan bisa menyudahi perdebatan dalam metode pengajaran tawhid model mutakallimin yang sarat dengan madzhab dan perdebatannya, yang kemudian menyeret kepada perpecahan antara kelompok yang menyebut dirinya salafi, asha’iroh, dan maturidiah, yang sebenarnya (dengan garis tafwidh dan takwil) kesemuanya termasuk Ahlussunnah Waljama’ah.

Sebelum mengenal jamaah nur, saya juga pernah mengenal ikhwan. Ketika hendak ke Turki, saya berkeinginan melihat sebuah Jemaah lain yang lebih baik, seperti yang tergambar dalam Risale-i nur.

Di negeri arab dimana ikhwan’ul-muslimin -yang menjadi ilham bagi Milligörüs- memiliki hegemoni, Jemaah nur biasanya lebih mengetengahkan wacana tentang surat yang pernah dikirim Said Nursi kepada Hasan al-Banna yang mengikrarkan bahwa “kami adalah ikhwan (saudara-saudara) kalian di Turki”. Begitu pun dalam konfrensi-konfrensi keislaman misalnya, yang diangkat adalah “kita bersaudara”, “kita satu”, “kita sama” dan klise-klise hafalan lainnya yang senada. Namun di belakang, yang terdengar adalah tudingan bahwa yang satu pengkhianat, yang satu antek, yang satu umpan, yang satu begok, yang satu dimanfaatkan, yang satu terlalu kolot, yang satu mata-mata dan yang satu fundamental dalam arti negatifnya.

Dalam Risalah Ukhuwah dan Ikhlas (yang diharuskan untuk dibaca para thullab minimal 2 minggu sekali) dengan muatan ikhlas dan ukhuwah yang cukup berbobot, juga menyebutkan bahwa di turki perpecahan tidak begitu terlihat seperti di belahan negeri yang lain.

Rupanya keadaan Turki tidak seindah itu. Sesampainya di Turki, saya hanya membuktikan kata-kata beberapa orang aktifis ikhwan yang menyebut bahwa: “saya sudah berkeliling dunia dan mengenal banyak Jemaah, saya belum melihat komunitas yang mampu mengamalkan islam yang kaffah (total) seperti ikhwan; dan belum melihat sebuah komunitas dengan jumlah yang besar, yang memahami islam sebagaimana dahulu diturunkan, selain ikhwan”. Keikhlasan dan konsep ummat dan jemaah ahlussunnah yang mereka (ikhwan) fahami juga bisa diukur ketika salah seorang mereka mengatakan kepada saya saat ke Turki (pindah ke jamaah nur): “Hasan al-Banna pernah berkata: (sebagian saudara kita itu) mungkin bersama kita tapi bukan dari kita. Atau ada yang dari kita tapi tidak bersama kita. Silahkan bergabung dengan komunitas manapun, ambil baiknya buang jeleknya. Dimana pun kamu, yang terpenting adalah kita sama-sama berusaha memperbaiki kondisi umat islam, tidak mesti dalam satu profesi atau satu bidang, harus berbeda-beda dan itu keharusan. Yang terpenting adalah konsep ummat jangan pernah dilupakan.”

Itu yang membuat saya mengagumi ikhwan. Sepertinya Hasan al-Banna begitu jeli ketika menulis Risalah Ta’lim (Risalah khusus kepada para akh “mujahid” “mukhlis”), menjadikan “faham” adalah point pertama yang harus dicerna. Karena memang bekerja untuk islam dengan pemahaman yang salah tentang islam dan konsep-konsepnya, sama saja dengan berjalan mundur. Kemudian di dalam point “faham” ini, al-Banna meletakkan dua puluh point utama yang harus difahami, beberapa butirnya adalah konsep jemaah, persaudaraan dan penyebab perpecahan.

Di Indonesia pun, para aktifis kelompok-kelompok turki ini terus berseteru. Salah seorang senior kelas saya yang bekerja sebagai periset di Aceh, katanya jika ada perkumpulan, lalu ada salah seorang dari satu jemaah lain datang, yang lain akan berusaha menghindar.

Itu beberapa kontras spektrum yang mampu saya tangkap antara Sudan dan Turki, antara Ikhwan dan Jemaah nur, antara Milligörüs dan Hocaefendi, juga bebarapa jemaah lain.. juga antara buku dan aplikasi, antara guru dan para pengikutnya.

***

Berkata penulis:

Disini kami meminta kepada PPI Turki atau PPI Istanbul -sebagai organisasi persatuan pelajar Indonesia-, untuk membuat sebuah diskusi panel, mengundang orang-orang dari berbagai kelompok tersebut atau orang-orang berkompeten, duduk dalam satu forum; untuk menyampaikan siapa mereka; untuk kita tanyai apa masalah antara mereka; kemudian untuk kita tegaskan, itu buka masalah kita (kami).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: