Semangat Berbagi Bersama Scabies

Pernah punya luka seperti yang ada di gambar?

Merasa sangat gatal terutama pada malam hari?

Apakah orang di sekitar kalian juga punya keadaan seperti di gambar?

Pernah menemukan sejenis tungau di sekitar lukanya?

Jika Anda meng-iya-kan 2 dari 4 pertanyaan saya, maka Anda dapat terdiagnosis menderita scabies. Wah, ada yang tahu apa itu scabies?

Mungkin teman-teman belum pernah mendegar istilah scabies ini, tapi pernah dengar istilah “kudis” atau  “gudig” atau “budukan” kan?  Nah, baguslah kalau pernah dengar dan selanjutnya lebih baik kita pakai istilah kedokterannya, scabies.

Scabies ini merupakan salah satu penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap Sarcoptes scabiei var, hominis dan produknya (Handoko,2007). Wah, agak rumit ya definisinya, intinya scabies ini disebabkan oleh keberadaan dan aktivitas tungau Sarcoptes scabiei var, hominis  baik dalam bentuk telur, bentuk larva, bentuk nimfa, maupun bentuk dewasanya di lapisan/ stratum korneum kulit

.

Mari kita berkenalan sedikit dengan tungau penyebabnya (Sarcoptes scabiei var, hominis).

Sarcoptes scabiei termasuk filum Arthropoda, kelas Arachnida, ordo Ackarima, superfamili Sarcoptes. Tungau ini dapat hidup di manusia maupun hewan, kalau pada manusia bernama Sarcoptes scabiei var, hominis.  Bentuk tungau ini oval dan kecil, serta bersifat translusen, berwarna putih kotor, dan tidak bermata (singkat kata: lihat gambar).

Ukuran tubuhnya mah udah pake satuan mikron, yaitu pada betina sekitar 330 mikron -450 mikron x  250 mikron -350 mikron, sedangkan jantannya lebih kecil (di mana-mana ukuran jantan lebih kecil dibandingkan ukuran betina, hehe) sekitar 200 mikron -240 mikron x 150 mikron – 200 mikron.

Bentuk dewasanya mempunyai 4 pasang kaki, 2 pasang kaki di depan digunakan sebagai alat untuk melekat dan 2 pasang kaki kedua pada betina berakhir dengan rambut, sedangkan pada jantan pasangan kaki ketiga berakhir dengan rambut dan keempat berakhir dengan alat perekat.

Berbicara mengenai parasit/ tungau, kita tak dapat meninggalkan siklus hidupnya, yaitu (dapat dilihat di gambar di bawah):

– Setelah kopulasi (perkawinan) yang terjadi di atas kulit, tungau jantau akan mati, tetapi kadang masih dapat hidup beberapa hari pada terowongan yang digali oleh tungau betina.

– Tungau betina yang telah dibuahi menggali terowongan dalam stratum korneum dengan kecepatan 2 milimeter-3 milimeter dalam satu hari dan sambil meletakkan telurnya 2 atau 4 butir samapai mencapai 40 atau 50 butir. Bentuk betina dewasa yang telah dibuahi ini dapat hidup selama 1 bulan.

–  Telur akan menetas dalam waktu 3-5 hari dan menjadi larva yang memiliki 3 pasang kaki. Larva ini dapat tinggal di dalam terowongan ataupun dapat keluar

– Larva akan menjadi nimfa dalam 2-3 hari . Nimfa ini mempunyai 4 pasang kaki dan 2 bentuk, yaitu jantan dan betina.

– Keseluruhan daur hidupnya membutuhkan waktu antara 8-12 hari.

Nah, rasanya udah cukup kenalan kita dengan tungau biangnya scabies ini. Kita kembali ke jalan yang benar, eh, maksudnya kembali membahas scabies itu sendiri.

Akibat ulah tungau scabies yang hidup dan berkembang biak di salah satu lapisan kulit penderita akan timbul tanda-tanda yang dapat membantu kita dalam mendiagnosis scabies, namanya tanda kardinal, terdiri dari 4 poin, yaitu:

  1. Pruritus Nokturna

(Oops, jangan putus asa kalau belum tahu arti terminologi ini)

Pruritus nokturna ini adalah gatal pada malam hari karena aktivitas tungau ini lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan panas, yaitu pada malam hari.

2. Penyakit ini menyerang manusia secara berkelompok, misalnya dalam sebuah keluarga biasanya seluruh anggota keluarga dapat terkena infeksi, serta dapat terjadi epidemik di sebuah asrama ataupun perkampungan yang padat penghuninya.

Terdapat penderita yang mengalami infestasi tungau, tetapi tidak menimbulkan gejala yang disebut sebagai pembawa (carrier) yang berada pada keadaan hiposensitisasi.

3. Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang berwarna putih/ keabu-abuan, dapat berbentuk lurus atau berkelok-kelok, panjangnya rata-rata 1 cm dan pada ujungnya dapat ditemukan papul atau vesikel. Jika timbul infeksi sekunder, ruam kulitnya menjadi polimorf (pustul, ekskoriasi, dll)

Tempat predileksinya à daerah yang stratum korneumnya tipis, seperti sela-sela jari tangan, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan, areola mammae (perempuan), umbilicus (pusar), bokong, genitalia eksterna (laki-laki), dan perut bagian bawah.

 4. Ditemukannya tungau (satu atau beberapa stadium hidup tungau) à paling diagnostik

Diagnosis dapat dibuat apabila ditemukan 2 dari 4 tanda kardinal tersebut.

Penderita yang merasa gatal akan menggaruk kulit yang terkena sehingga dapat menimbulkan kelainan kulit lainnya, seperti erosi, ekskoriasi, krusta, dan infeksi sekunder. Rasa gatal ini disebabkan oleh sensitisasi terhadap sekreta dan eksreta tungau yang membutuhkan waktu sekitar 1 bulan setelah infestasi tungau di kulit.

Setelah penjelasan mengenai tungau penyebab dan sedikit deskripsi scabies, mungkin pembaca bertanya-tanya bagaimana scabies ini menular sehingga dapat terjadi epidemi. Ada 2 cara penularan scabies ini, yaitu:

  1. Kontak langsung (kontak kulit dengan kulit), misalnya berjabat tangan, tidur bersama, dan hubungan seksual sehingga scabies dapat dimasukkan dalam PHS (Penyakit akibat Hubungan Seksual)
  2. Kontak tidak langsung (melalui benda), misalnya pakain, handuk, sprei, bantal.

Pada akhirnya, kalau udah ketahuan menderita scabies pastinya penderita ingin tahu bagaimana cara mengobatinya. Seluruh anggota keluarga atau orang yang hidup bersama penderita scabies pun harus juga diobati, yaitu dengan pengolesan obat topikal ke kulit tubuh. Obat topikal yang dapat digunakan adalah belerang endap (sulfur presipitatum) 4-20%, emulsi benzyl-benzoas 20-25%, gama benzene heksa klorida 1%, krotamiton 10%, dan permetrin 5%.

Selain pengobatan dengan obat topikal, penderita dan orang sekitarnya juga harus meningkatkan kebersihan diri dan berusaha untuk tidak berbagi dalam penggunaan barang-barang pribadi, seperti pakaian, handuk, dll.

by Nisa.S

Kepustakaan:

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FK Universitas Indonesia. Cetakan kedua,2007.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: