“ MEHMET “ sebuah realita kehidupan

Panas yang menyengat tak membuat mehmet menyerah tuk mencari rupiah untuk sesuap nasi. Mehmet hidup sebatangkara tanpa sanak saudara, musibah kebakaran yang merenggut kedua orang tua dan kedua kakaknya membuat ia harus hidup sendiri sejak usia balita. Tak ada satupun orang yang iba padanya karna tubuhnya yang tak sempurna. Orang-orang disekitarnya tampak tak perduli sama sekali.

“Alhamdulillah hari ini aku dapet sepuluh ribu rupiah, aku bisa makan siang hari ini, cari warteg dulu ah laper aku. ”

Dengan raut wajah yang ceria ia berjalan santai mencari warteg yang kira-kira cukup murah sambil melihat keadaan sekitar, karna Mehmet kerja serabutan ia selalu berpindah-pindah tempat tak punya warteg langganan. Sampailah Mehmet di sebuah warteg yang sangat sederhana. Di warteg itu Nampak ibu tua sedang sibuk melayani pembeli, ternyata ia adalah sang pemilik warteg. Dengan wajah yang tak cukup ramah ibu tua itu mengusir Mehmet yang dikiranya seorang pengemis.

“ Pergi..pergi..hus..hus..sana..sana… ” Usir pemilik warteg itu.

“ Aku bukan pengemis, aku mau bli nasi ini aku ada uangnya.” Jawab Mehmet.

Mehmet tidak kaget ketika di usir layaknya pengemis karna sudah menjadi hal biasa setiap ke warteg yang baru di kunjunginya pasti terjadi hal yang sama. Sambil menyantap nasi plus tahu goreng dengan lahapnya karna sudah sangat lapar, ia juga memperhatikan dua orang laki-laki muda yang sedang bercakap cakap serius di luar warteg.

“ baru ganti hp ya. ”

“ oo iya gua di bliin nyokap kemaren, kerenkan.. , nomer hp lo brapa? gua lupa. ”

“ oo.. gua pake esia. ”

“ mo esia ke’ emaneh ke’ ember ke’ bodo amat gua tanya nomer hp lo brapa? . “

“ ooo he.. he.. sorry bro, tunggu..tunggu..  gua juga lupa. ”

Mehmet yang sibuk menyantap makan siangnya, mendengarkan mercakapan mereka hanya menggeleng-geleng keheranan. Tak pernah terbesit di benak Mehmet untuk membeli handphone Jangankan membeli handphone buat makan saja tak jelas, hari ini bisa makan besok belum tentu, tidur tak beralas, ujan, panas beratap langit, siang malam tak punya tujuan pulang,

Makan siang sudah selesai saatnya Mehmet mencari kerja serabutan kembali, ia bisanya bekerja apa saja, kadang memijit tukang becak yang kelelahan, jadi kuli panggul beras, terigu, dan lain-lain, kadang juga jadi tukang cuci piring di warteg dengan upah yang tidak seberapa. Ia tidak suka bekerja di satu tempat, ia lebih suka berkelana karena menurutnya lebih banyak pengalaman hidup. Ilmu agama yang minus tak membuat dia lupa sholat lima waktu, yang ia tahu jangan pernah meninggalkan sholat dan puasa Ramadan, selebihnya hanya tahu dari ceramah-ceramah jum’at di masjid yang ia kunjungi, Untuk mandi dan lain-lain selalu di masjid atau mushola.

Suatu hari Mehmet merasa tubuhnya menggigil, ia terkena demam, sakit demam yang ia rasakan di acuhkannya karena ia pikir demam biasa mungkin akan terkena flu.

sakit demamnya sudah sembuh namun tiba-tiba kepala mehmet sakit dan muntah-muntah, Mehmet mulai berpikir sakit apakah yang sebenarnya ia derita. Walau sakit ia tidak pernah berhenti mencari kerja, ia tetap berpendirian teguh tak mau menjadi pengemis hanya karna kelaparan. Tak banyak memang orang seperti Mehmet untuk zaman sekarang ini.

Mehmet terus berjalan mencari kerja dan juga mencari puskesmas, Mehmet merasa sakitnya tambah parah. Tibalah Mehmet di puskesmas. Mendaftarlah mehmet, sambil menunggu antrian, Mehmet berdoa agar penyakit yang ia derita bukan penyakit  parah yang membutuhkan perawatan yang lebih serius.

“ Mehmet. ” panggil suster puskesmas.

“ berbaring di situ. ” perintah suster sambil menunjuk ranjang periksa di ruang dokter.

Dokter memeriksa Mehmet dengan seksama.

“ sudah berapa lama kamu sakit kepala dan muntah-muntah?. “ Tanya dokter.

“ baru beberapa hari ini pak awalnya demam “ jawab mehmet.

Dokter menarik nafas dalam-dalam dengan berat hati ia harus mengatakan tentang penyakit yang di derita Mehmet.

“ kamu perlu perawatan di rumah sakit. “

“ perawatan pak dokter. “ terkejut Mehmet mendengar karna ia harus di rawat di rumah sakit.

“ saya mengerti, kalau kamu tidak mampu membayar perawatan di rumah sakit nanti, kamu bisa mintah surat keterangan tidak mampu ke RT, RW di tempat tinggal kamu jadi bisa gratis. ”

“ sebenarnya saya sakit apa pak dokter? . ”

“ secara klinis sepertinya kamu terkena tumor otak, tapi sebaiknya kamu DI CT SCAN dulu untuk memastikan, ini saya kasih surat rujukannya ya. “

Mendengar penjelasan dokter sebenarnya Mehmet kurang paham karna Mehmet tak sempat mengenyam bangku sekolah, ia hanya mengangguk saja.

Tak berpikir panjang lagi akhirnya Mehmet memutuskan pergi ke rumah sakit dengan berjalan kaki. Dan  tibalah Mehmet di rumah sakit Waras Selalu. Rumah sakit umum Waras Selalu terletak di pinggiran jalan besar, lokasinya sangat strategis

Mehmet  tak pernah terpikirkan akan menderita penyakit yang menurutnya aneh, selama ini ia hanya kenal yang namanya penyakit gatal-gatal, diare, atau penyakit lainnya yang cukup minum obat warung saja.

Satpam yang sudah dari tadi memeperhatikan Mehmet langsung saja menghampiri dengan wajah jauh dari ramah.

“ Disini tidak boleh ada pengemis sana.. sana.. “ Usir satpam ke Mehmet

“ saya bukan pengemis pak, saya kesini mau berobat,ini ada surat rujukan dari dokter puskesmas. ”

“ wah kamu nanti bayar pake apa mau berobat di sini, disini bukan panti social, sudah sana, buang-buang waktu saja saya bicara sama kamu.”

“ Pak bukan salah saya kalau saya miskin.”

“ iya memang bukan salah kamu, ini semua salah yang bikin Undang_Undang, tau tidak kenapa orang miskin kaya kamu itu setiap tahun bertambah buanyak, karena fakir miskin dan anak-anak yang  terlantar itu dipelihara oleh Negara, kalau di pelihara ya tambah buanyak, harusnya di kasih kerjaan. “

“ ooo .”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: