ASAL USUL TARAWIH

Tarawih merupakan shalat yang dilakukan pada bulan ramazan yang bertujuan untuk syiar dan penyemangat bagi kita dalam beribadah. Juga merupakan bentuk latihan dari ibadah yang dilakukan selama satu bulan penuh yang diharapkan nantinya bisa dilanjutkan di luar bulan ramazan.

Adapun dalil dalam shalat tarawih ini disamakan dengan dalil untuk shalat qiamullail ataupun shalat tahajut dan witir, yang kesemua shalat ini tidak hanya dilakukan pada bulan ramazan saja akan tetapi juga di bulan-bulan yang lain.

Mengenai jumlah rakaat dalam shalat tarawih, para shahabat tidak mempersoalkan berapa jumlah pasti, akan tetapi yang ditekankan adalah seberapa panjang ayat yang dibacakan pada waktu shalat dilakukan. Bilangan rakaat tergantung pada kita mau berapa rakaat kita mau mengerjakannya.

Rasulullah pernah mengerjakannya 1 rakaat saja akan tetapi bacaan surat alquran itu cukup panjang, sampe beberapa surat diantaranya pernah membaca surat Al-Baqarah sampai habis kemudian dilanjutkan dengan beberapa surat yang lainnya. Kemudian juga delapan rakaat, atau lebih dari itu juga pernah dicontohkan oleh rasulullah.

Kemudian para shahabat menyepakati bahwa yang terpenting selama bulan ramazan minimal harus bisa khatam sekali dalam shalat. Oleh sebab itulah pada masa Umar bin khattab al-qur’an dibagi menjadi 30 juz sehingga  pada setiap malamnya dibaca al-qur’an satu juz untuk mengenapkan satu kali khatam.

Pada awalnya, shalat tarawih dilakukan dengan 8 rakaat dan membaca alqur’an sebanyak satu juz permalam. Namun para jama’ah merasa agak berat untuk melakukannya sehingga dibuatlah kesepakatan untuk menambahkan jumlah rakaat menjadi 20. Penambahan ini dilakukan supaya bisa melaksanakannya secara lebih santai dan lebih banyak istirahatnya. Kesepakatan ini juga dilakukan pada masa Umar bin khattab.

Pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz dibuat lagi kesepakatan untuk menambahkan jumlah rakaat menjadi 36, sehingga di negara arab sana bisa kita jumpai mesjid yang pelaksanaan shalat tarawih itu sampai 36 rakaat.

Kemudian selanjutnya juga kita mendapati ada Al-qur’an yang menggunakan tanda ‘ain pada setiap pembagian juznya. Tanda ini menunjukkan jumlah rukuk dalam setiap satu juz itu, yang berarti bahwa seandainya dalam satu juz itu terdapat 10 ain itu berarti dalam satu juz itu dilakukan 10 rakaat shalat.

Mengenai waktu untuk shalat tarawih atau qiyamullail sebagai mana yang telah dicontoh kan oleh rasulullah bahwa kita bisa mengerjakannya kapan saja dalam rentang waktu setelah selesai shalat insya sampai menjelang waktu sahur/shalat subuh tiba. Pernah rasulullah itu mengerjakannya setelah shalat insya dan juga pernah pertengahan malamnya atau sepertiga malamnya dan juga pernah semalaman.

 

Note: Ringkasan isi ceramah yang disampaikan oleh Prof. DR.H. Ilyasa’ Abubakar, MA pada malam ke-22 tarawih di mesjid Ule kareng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: