I’m coming home..

Akhirnya setelah hampir tiga tahun lamanya, atau selama dua kali lebaran tidak sempat merayakannya bersama keluarga tercinta dan di negri tercinta, pada tahun ini Allah menganugrahkan aku untuk menikmati lebaran ditanah kelahiranku. Kalau kawanku bilang hampir saja aku jadi bang Toyyip seandainya sampai tiga kali lebaran tak pulang-pulang.haha

Sungguh sesuatu yang tidak pernah aku prediksi dan rencanakan sebelumnya. Semua itu dikarenakan oleh ketidak mampuan diriku untuk membuat perencanaan tuk pulang kampong. Betapa tidak, klo dipikir-pikir biaya yang diperlukan untuk pulang kampung lebih baik digunakan buat simpanan in case terjadi hal yang tidak diperhitungkan.

Beasiswaku yang tidak seberapa dan hanya pas pasan untuk keperluan di Istanbul membuatku tidak mempunyai kemampuan untuk pulang kampung tiap tahunnya. Namun, kali ini Allah menakdirkan lain, sehingga aku bisa mendapatkan peluang berlebaran bersama keluarga.

Takdir Allah itu terjadi melalui perantara Pak Ahmad Juaini yang merupakan direktur eksekutif Dompet dhuafa. Pada waktu itu, seperti biasa aku mengecek email dan Facebookku dan Pak Ahmad menyapaku dan menanyakan kabar di istanbul dan sebagainya. Beliau juga mengatakan ada rencana mau ke Istanbul dalam waktu dekat.

Sembari bercanda sempat aku bilang ke Pak Ahmad kalau aku sebenarnya ingin pulang ke Indonesia akan tetapi bermasalah dengan tiket pesawat yang lumayan mahal buat ku dengan segala kondisi yang ada. Si Bapak membalas pesanku dengan menanyakan „ emang berapa tiket pesawat sampai ke Aceh?“ dengan santai aku menjawab „sekitar 700 Euro Pak“ .

Setelah percakapan itu berlalu aku berfikir bahwa semua itu hanya sekedar pembicaraan biasa yang tidak ada kelanjutannya. Akan tetapi sesuatu yang tidak terdugapun terjadi. Ternyata pembicaraan itu masih dilanjutkan dengan realisasi dari sebuah harapanku.

Ketika aku sedang berada di sebuah hostel dalam rangka menemani tamu yang datang dari malaysia yang berjumlah lebih kurang 40 orang, telepon genggamku berdering dan aku melihat ternyata yang meneleponku kala itu adalah mbak Uti yang tak lain adalah sekretaris Pak Ahmad Juaini.

Mbak Uti langsung membicarakan masalah tiket kepulanganu ke kampung dan si mbak mengatakan kalau dia akan menitipkan sedikit bantuan  tunai melalui Pak Ahmad Juaini yang akan ke Istanbul dalam waktu dekat.  Aku  merasa terharu sekali ketika mendengarkannya dan rasa syukurku pun menyelimuti suasana hati yang lagi galau.

Singkat cerita akhirnya aku putuskan untuk pulang kampung summer ini walau sebelumnya sudah menyusun rencana untuk menghabiskan waktu liburku di beberapa negara Eropa. Hal ini dikarnakan kondisi finansialku yang tidak mencukupi untuk pulang kampung.

Sebelumnya aku sempat menghubungi rekan-rekanku yang tinggal di Swedia dan Denmark kalau aku berkeinginan mengunjungi mereka selama liburan summer tahun ini dan mereka sangat senang mendengarkannya. Bahkan mereka bilang kalau jadi aku ke sana aku bisa menginap di tempat mereka sehingga ngak perlu mencarikan hotel dan juga bisa menghemat pengeluaran. Begitulah yang sempat aku pikirkan waktu itu sebelum adanya angin segar yang memang sudah Allah atur untuk kepulanganku ke Aceh.

Route perjalananku ke kampung melalui Malaysia setelah transit di Dubai dengan menggunakan Emirate Airline. Aku memilih jalur Malaysia dikarenakan lebih mudah akomodasi disana disamping juga banyak saudara dan rekan-rekanku yang berdomisili di Kuala Lumpur dan sekitarnya.

Setelah sampai di Malaysia aku dijemput oleh abangku dan tinggal bersama beliau untuk beberapa hari. Kemudian juga bersilaturahim ke rumah saudara dan bertemu dengan rekan-rekan mahasiswa yang berasal dari Aceh.

Lebih kurang seminggu aku berada di Malaysia dan setelah itu kembali meneruskan perjalananku menuju kampung halaman yang sudah hampir tiga tahun ditinggalkan. Serasa tak percaya rasanya pada waktu pertama kali menghirup udara khatulistiwa,namun kalau memang Allah menghendaki semua itu bisa terwujud.

Aku memilih perjalanan laut untuk menuju ke Aceh yaitu dengan menggunakan boat ferry dari pelabuhan Poklang menuju ke Tanjung Balai kabupaten Asahan Indonesia. Jarak tempuhnya sekitar 5 jam dengan harga tiket berkisar RM. 120.

Kemudian dari pelabuhan tanjung balai menuju ke kota Medan dengan menggunakan mobil angkutan khusus seperti L300 kalau di Aceh. Biaya yang kita keluarkan untuk transportasi tersebut sekitar RP. 100.000. Akan tetapi kadang biayanya juga berfariasi tergantung seberapa banyak barang yg kita bawa.

Sekitar 6 jam perjalanan baru sampai di kota Medan kemudian baru perjalanan dilanjutkan ke Nanggro Aceh Darussalam dengan menggunakan Bus Kurnia dengan menempuh jarak lebih kurang 6 jam dengan membayar tiket RP. 70.000 sampai di Simpang Ulim Aceh Timur.

Sesampainya di kampung halaman aku di jemput oleh ibundaku tercinta. Tak terasa air mataku pun membasahi pelopak mataku sesaat ketika berjumpa dengan sang bunda. Beliau mendekapku sambil mennangis haru karna Allah masih menakdirkan kami untuk berjumpa dan sambil menyka air mata aku melanjutkan langkah sambil menyongsong dan menanti kisah selanjutnya yang telah Allah tuliskan dan sediakan buat ku. Welcome home..sweet home🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: