Akankah Ayasofya Kembali Menjadi Mesjid ?!

Bulan Ramadan adalah bulan yang disambut dengan penuh kegembiraan oleh semua penduduk muslim di dunia  begitu juga dengan penduduk Turki. Rata- rata pada malam hari mesjid-mesjid penuh dengan para jamaah yang ingin melaksanakan shalat tarawih.

Pada malam kedua  shalat tarawih, saya menjatuhkan pilihan untuk melaksakan shalat tarawih di Mesjid  Sultan Ahmed. Mesjid Sultan Ahmed (Turkish: Sultanahmet Camii) adalah sebuah masjid bersejarah di Istanbul, kota terbesar di Turki dan ibukota Kekaisaran Ottoman (1453-1923). Masjid ini juga dikenal sebagai Masjid Biru. Hal ini dikarenakan oleh ubin biru yang menghiasi dinding interior.

Letaknya sekitar 20 menit dari asrama tempat saya tinggal, perjalanan ke sana menggunakan tranvay atau kereta listrik. Mesjid ini juga banyak dikunjungi oleh para turis – turis yang berkunjung dari  berbagai negara, dan dijadikan salah satu tempat kunjungan favorit karena memiliki arsitektur yang mempesona.

Di Mesjid Biru ini juga terdapat kenangan yang sangat berkesan bagi saya, dimana pada tahun pertama saya tinggal di Istanbul saya sempat berjumpa dengan Perdana Mentri Turki Receb Tayyib Erdogan. Saya bertatap muka bahkan sempat berjabat tangan dengan beliau waktu itu.

Tak jauh beda dengan di beberapa tempat di Indonesia sebelum shalat isya dan tarawih disetiap malamnya diadakan pengajian.  Pengajian waktu itu di isi oleh salah satu ulama yang sudah biasa memberikan pengajian di bulan Ramadan, dalam pengajian tersebut beliau  sempat menyinggung tentang  Ayasofya yang masih belum bisa difungsikan sebagai mesjid seperti sebelumnya.

Ayasofya pada awalnya merupakan pusat gereja dunia yang dibangun oleh putra Kaisar Constantinos I. yang bernama Kaisar Constantius, pada tahun 360 Masehi Gereja ini sudah dibuka untuk layanan. Gereja  ini awalnya bernama “Megale ekklesia” (Gereja Besar) yang merupakan  Gereja terbesar di Konstantinopel.

Pada masa pemerintahan Sultan Mehmed II “Turki menaklukkan Konstantinopel di tahun 1453, pada masa inilah Ayasofya diubah menjadi Masjid dan difungsikan sebagai  tempat ibadah Umat Islam. Lukisan-lukisan dinding dan tokoh mosaik orang-orang kudus Kristen yang menghiasi dinding, pada abad ke 16, benar-benar tertutup oleh plester, karena kode Islam melarang representasi figural.

Kemudian bangunan Ayasofya dirubah sesuai standar arsitektur Islam, selama hampir 500 tahun Ayasofya berfungsi sebagai mesjid. Patung, salib, dan lukisannya sudah dicopot atau ditutupi cat.

Pada tahun 1937, Mustafa Kemal Atatürk mengubah status Ayasofya menjadi museum. Mulailah proyek “Pembongkaran Ayasofya”. Beberapa bagian dinding dan langit-langit dikerok dari cat-cat kaligrafi hingga ditemukan kembali lukisan-lukisan sakral Kristen.

Sejak saat itu, Masjid Ayasofya dijadikan salah satu objek wisata terkenal oleh pemerintah Turki di Istambul. Nilai sejarahnya tertutupi gaya arsitektur Bizantium yang indah mempesona.

Di sini dipamerkan surat-surat khalifah yang menunjukkan kehebatan khilafah Utsmaniyah dalam menjamin, melindungi, dan memakmurkan warganya ataupun orang asing pencari suaka tanpa pandang bulu.  Surat tertua ialah surat sertifikat tanah yang diberikan tahun 1519 kepada para pengungsi Yahudi yang lari dari kejamnya Inkuisisi Spanyol pasca jatuhnya pemerintahan Islam di Al-Andalus. Kemudian surat ucapan terima kasih dari Pemerintah Amerika Serikat atas bantuan pangan yang dikirim kholifah ke sana yang sedang dilanda kelaparan (pasca perang dengan Inggris) abad ke-18.

Lalu surat jaminan perlindungan kepada Raja Swedia yang diusir tentara Rusia dan mencari suaka kepada khalifah pada 7 Agustus 1709. Surat tertanggal 13 Robi’ul Akhir 1282 H (5 September 1865) yang memberi izin dan ongkos kepada 30 keluarga Yunani yang berimigrasi ke Rusia namun kembali ke wilayah khilafah, karena di Rusia justru mereka sengsara. Yang termutakhir ialah peraturan bebas cukai barang bawaan orang-orang Rusia yang mencari suaka ke wilayah khilafah pasca Revolusi Bolshevik tertanggal 25 Desember 1920 M.

Di sini dipamerkan sekitar 100 sampel surat yang menakjubkan, baik yang ditujukan maupun yang dikeluarkan kepada khalifah. Sayangnya, yang ditonjolkan ialah bukti jika semua itu seakan merupakan bukti kehebatan bangsa Turki dulu, bukan terpancar dari akidah, syari’at, dan sistem Daulah Khilafah Islam.

Permohonan Ayasofya agar kembali difungsikan sebagai mesjid sudah merupakan kasus lama dari tahun ke tahun hingga sekarang, namun belakangan masyarakat sangat antusias agar mesjid ini bisa difungsikan kembali sebagaimana mestinya.

Issu ini juga sering kali diulang-ulang pada pengajian tarawih yang disampaikan malam itu dan disambut dengan baik oleh para jema’ah dimana mereka sangat mendukung agar Ayasofya bisa difungsikan lagi menjadi mesjid seperti halnya pada masa pemerintahan Sultan Mehmed II. Pada masa itu, di tempat inilah shalat jum’at pertama dan sumber yang lain juga ada yang mengatakan bahwa shalat ashar pertama dilaksanakan setelah penaklukan terjadi.

Hal ini diserukan juga oleh partai politik BBP (Büyük Birlik Partisi) baru-baru ini, tepatnya pada tanggal 15 Agustus yang lalu atau bertepatan pada hari kelima Ramadhan. Mereka menuntut agar Ayasofya kembali dibuka untuk tempat ibadah atau minimal dibuka untuk bisa shalat idul fitri tahun ini. Tuntutan ini ditujukan kepada pihak yang berwenang dalam hal ini khususnya kepada pemerintahan yang sekarang dibawah kepemimpinan Partai Keadilan dan Pembangunan [AKP]

Suasana pengajian malam itu cukup mengharukan dimana pada akhir penganjian ulama tersebut menyebutkan dalam do’anya yang berisikan harapan pada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar dalam waktu dekat masyarakat  bisa melaksanakan shalat di Mesjid Ayasofya ..InsyaAllah.

Akankah Ayasofya akan segera bisa digunakan sebagai mesjid oleh penduduk Turki?? ini masih jadi dilema. Insya Allah kita nantikan kabar baiknya.

****İnşaallah birgün yakın zamanında yine de Ayasofya camiininde taraweh namazı ve beş vakit namazı kılabiliriz (insyaAllah suatu hari nanti kembali kita bisa melaksanakan shalat tarawih dan shalat lima waktu di mesjid Ayasofya)

<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) }st2\:*{behavior:url(#ieooui) } –>

Bulan Ramadan adalah bulan yang disambut dengan penuh kegembiraan oleh semua penduduk muslim di dunia  begitu juga dengan penduduk Turki. Rata- rata pada malam hari mesjid-mesjid penuh dengan para jamaah yang ingin melaksanakan shalat tarawih.

Pada malam kedua  shalat tarawih, saya menjatuhkan pilihan untuk melaksakan shalat tarawih di Mesjid  Sultan Ahmed. Mesjid Sultan Ahmed (Turkish: Sultanahmet Camii) adalah sebuah masjid bersejarah di Istanbul, kota terbesar di Turki dan ibukota Kekaisaran Ottoman (1453-1923). Masjid ini juga dikenal sebagai Masjid Biru. Hal ini dikarenakan oleh ubin biru yang menghiasi dinding interior.

Letaknya sekitar 20 menit dari asrama tempat saya tinggal, perjalanan ke sana menggunakan tranvay atau kereta listrik. Mesjid ini juga banyak dikunjungi oleh para turis- turis yang berkunjung dari  berbagai negara, dan dijadikan salah satu tempat kunjungan favorit karena memiliki arsitektur yang mempesona.

Di Mesjid Biru ini juga terdapat kenangan yang sangat berkesan bagi saya, dimana pada tahun pertama saya tinggal di Istanbul saya sempat berjumpa dengan Perdana Mentri Turki Receb Tayyib Erdogan. Saya bertatap muka bahkan sempat berjabat tangan dengan beliau waktu itu.

Tak jauh beda dengan di beberapa tempat di Indonesia sebelum shalat isya dan tarawih disetiap malamnya diadakan pengajian.  Pengajian waktu itu di isi oleh salah satu ulama yang sudah biasa memberikan pengajian di bulan Ramadan, dalam pengajian tersebut beliau  sempat menyinggung tentang  Ayasofya yang masih belum bisa difungsikan sebagai mesjid seperti sebelumnya.

Ayasofya pada awalnya merupakan pusat gereja dunia yang dibangun oleh putra Kaisar Constantinos I. yang bernama Kaisar Constantius, pada tahun 360 Masehi Gereja ini sudah dibuka untuk layanan. Gereja  ini awalnya bernama “Megale ekklesia” (Gereja Besar) yang merupakan  Gereja terbesar di Konstantinopel.

Pada masa pemerintahan Sultan Mehmed II “Turki menaklukkan Konstantinopel di tahun 1453, pada masa inilah Ayasofya diubah menjadi Masjid dan difungsikan sebagai  tempat ibadah Umat Islam. Lukisan-lukisan dinding dan tokoh mosaik orang-orang kudus Kristen yang menghiasi dinding, pada abad ke 16, benar-benar tertutup oleh plester, karena kode Islam melarang representasi figural.

Kemudian bangunan Ayasofya dirubah sesuai standar arsitektur Islam, selama hampir 500 tahun Hagia Sophia berfungsi sebagai mesjid. Patung, salib, dan lukisannya sudah dicopot atau ditutupi cat.

Pada tahun 1937, Mustafa Kemal Atatürk mengubah status Ayasofya menjadi museum. Mulailah proyek “Pembongkaran Ayasofya”. Beberapa bagian dinding dan langit-langit dikerok dari cat-cat kaligrafi hingga ditemukan kembali lukisan-lukisan sakral Kristen.

.

Sejak saat itu, Masjid Aya Sofya dijadikan salah satu objek wisata terkenal oleh pemerintah Turki di Istambul. Nilai sejarahnya tertutupi gaya arsitektur Bizantium yang indah mempesona.

Di sini dipamerkan surat-surat khalifah yang menunjukkan kehebatan khilafah Utsmaniyah dalam menjamin, melindungi, dan memakmurkan warganya ataupun orang asing pencari suaka tanpa pandang bulu.  Surat tertua ialah surat sertifikat tanah yang diberikan tahun 1519 kepada para pengungsi Yahudi yang lari dari kejamnya Inkuisisi Spanyol pasca jatuhnya pemerintahan Islam di Al-Andalus. Kemudian surat ucapan terima kasih dari Pemerintah Amerika Serikat atas bantuan pangan yang dikirim kholifah ke sana yang sedang dilanda kelaparan (pasca perang dengan Inggris) abad ke-18.

Lalu surat jaminan perlindungan kepada Raja Swedia yang diusir tentara Rusia dan mencari suaka kepada khalifah pada 7 Agustus 1709. Surat tertanggal 13 Robi’ul Akhir 1282 H (5 September 1865) yang memberi izin dan ongkos kepada 30 keluarga Yunani yang berimigrasi ke Rusia namun kembali ke wilayah khilafah, karena di Rusia justru mereka sengsara. Yang termutakhir ialah peraturan bebas cukai barang bawaan orang-orang Rusia yang mencari suaka ke wilayah khilafah pasca Revolusi Bolshevik tertanggal 25 Desember 1920 M.

Di sini dipamerkan sekitar 100 sampel surat yang menakjubkan, baik yang ditujukan maupun yang dikeluarkan kepada khalifah. Sayangnya, yang ditonjolkan ialah bukti jika semua itu seakan merupakan bukti kehebatan bangsa Turki dulu, bukan terpancar dari akidah, syari’at, dan sistem Daulah Khilafah Islam.

Permohonan Ayasofya agar kembali difungsikan sebagai mesjid sudah merupakan kasus lama dari tahun ke tahun hingga sekarang, namun belakangan masyarakat sangat antusias agar mesjid ini bisa difungsikan kembali sebagaimana mestinya.

Issu ini juga sering kali diulang-ulang pada pengajian tarawih yang disampaikan malam itu dan disambut dengan baik oleh para jema’ah dimana mereka sangat mendukung agar Ayasofya bisa difungsikan lagi menjadi mesjid seperti halnya pada masa pemerintahan Sultan Mehmed II. Pada masa itu, di tempat inilah shalat jum’at pertama dan sumber yang lain juga ada yang mengatakan bahwa shalat ashar pertama dilaksanakan setelah penaklukan terjadi.

Hal ini diserukan juga oleh partai politik BBP (Büyük Birlik Partisi) baru-baru ini, tepatnya pada tanggal 15 Agustus yang lalu atau bertepatan pada hari kelima Ramadhan. Mereka menuntut agar Ayasofya kembali dibuka untuk tempat ibadah atau minimal dibuka untuk bisa shalat idul fitri tahun ini. Tuntutan ini ditujukan kepada pihak yang berwenang dalam hal ini khususnya kepada pemerintahan yang sekarang dibawah kepemimpinan Partai Keadilan dan Pembangunan [AKP]

Suasana pengajian malam itu cukup mengharukan dimana pada akhir penganjian ulama tersebut menyebutkan dalam do’anya yang berisikan harapan pada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar dalam waktu dekat masyarakat  bisa melaksanakan shalat di Mesjid Aya Sofyia ..InsyaAllah.

Akankah Ayasofya akan segera bisa digunakan sebagai mesjid oleh penduduk Turki?? ini masih jadi dilema. Insya Allah kita nantikan kabar baiknya.

****İnşaallah birgün yakın zamanında yine de Ayasofya camiininde taraweh namazı ve beş vakit namazı kılabiliriz (insyaAllah suatu hari nanti kembali kita bisa melaksanakan shalat tarawih dan shalat lima waktu di mesjid Ayasofya)

5 responses

  1. Bagus sekali tulisannya,…ayasophia benar2 indah,..setuju untuk dijadikan mesjid kembali,…

    1. iyaaa bro..hampir semua masyarakat yg faham akan agamanya disini mengharapkan untuk bisa terwujud secepatnya, namun ini bukanlah permasalahan yang gampang tuk mewujudkannya karena ini juga menyangkut dengan issu global yang berkaitan juga dengan ummat kristiani dunia..

  2. nice….
    paparannya cukup deskriptif. Nilai historisnya juga cukup kental.
    keep writing!!!

  3. Masya Allah..nice article… cukup memberi inspirasi…

  4. Masya Allah..nice article… cukup memberi inspirasi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: