Unthinkable moment

Kehidupan di dunia ini bagaikan  sebuah adegan di dalam film yang biasa ditayangkan di televisi. Bagaimana tidak semua yang akan kita alami semuanya sudah digariskan dan ditetapkan oleh yang maha penguasa segalanya.

Namun dalam kontek kehidupan ini yang bertindak sebagai sutradara tunggal adalah tuhan rabbul ‘alamin. Saya teringan suatu masa ketika sedang di kampus dulu, ketika sedang sibuknya mempersiapkan diri untuk menyusun skripsi dan berbagai penelitian.

Masa-masa itu merupakan masa yang sangat berkesan dalam perjalanan kehidupanku. Betapa tidak, disaat itulah aku menghadapi berbagai permasalahan yang cukup rumit bagi seorang aku dengan kapasitasku pada waktu itu.

Waktu itu kerana sudah mulai disibukkan dengan penelitian, maka aku lebih sering menghabiskan waktuku di laboratorium. Walaupun laboratoriumnya tidak selengkap di universitas-universitas yang bergengsi lainnya yang ada di Indonesia, akan tetapi paling tidak tempat ini bisa memberikan kontribusi banyak bagiku untuk menyelesaikan studi pada jenjang strata satu. Misalkan saja fasilitas internet yang bisa diakses 24 jam.

Dengan menggunakan fasilitas itulah aku mencoba banyak belajar tentang kondisi diluar. Baik berhubungan dengan penelitianku maupun dalam bidang  lainnya. Diantaranya aku mencoba untuk memperluas jaringan persahabatan dengan berbagai kalangan dari berbagai negara. Pada waktu itu aku sering menggunakan yahoo messenger untuk mencari rekan untuk berbagi informasi dan diskusi.

Hari demi hari semakin banyak kawan-kawan yang aku tambahkan ke list YM ku, beragam etnis dan Negara. Namun ada kawan yang betul-betul intens berkomunikasi denganku dan juga ada yang sekedar kawan saja. Salah seorang yang intens berkomunikasi denganku adalah ukhti syahidah, dia seorang akhwat dari Malaysia yang pada waktu itu masih berstatus diploma di institute kajian keislaman, namun aku tidak tahu pasti dimana itu.

Akhwat ini juga ternyata seorang hafizah. Factor inilah yang membuatku menjadi tertarik dengannya, disamping itu dia juga aktif dalam komunitas dakwah di Malaysia. Seiring dengan perjalanan waktu kamipun saling berbagi nashehat dan informasi. Bahkan kami juga saling mengundang untuk berkunjung kenegara kami. Mungkin pada waktu itu aku masih menganggap itu merupakan suatu yang mustahil.

Bagaimana tidak dengan kondisiku yang termasuk lemah dalam masalah ekonomi dan lain sebagainya. Ketika tiba detik-detik akhir kelulusanku  dari kampusku tercinta, akhwat ini juga selesai study diplomanya dan dia mengatakan kepadaku ingin melanjutkan studynya di Yordania.

Suatu ketika akupun sempat punya keinginan kalaulah aku mempunyai kesempatan untuk berkunjung ke Malaysia aku mau mengatarkan kepergiannya ke Yordania. Namun, untuk semua itu hanyalah merupakan sebuah impian kosong bagiku saat itu. Sebelum dia berangkat, aku sempat meminta dia supaya mau memberikan aku nomor hpnya yang di yordania ketika dia sudah berada disana.

Singkat kata, diapun sampai di Yordania dan dia juga menepati janjinya untuk memberikanku no hpnya. Sesekali aku masih menyempatkan diri untuk mengirimkan message hanya sekedar untuk menanyakan keadaannya. Alhamdulillah juga dia masih mau menjadikanku sebagai sahabat sebagaimana sebelumnya.

Setelah beberapa lama kemudian, Alhamdulillah waktu itu akupun diberikan Allah kesempatan untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri, yaitu ke Turky. Mungkin waktu itu seperti mimpi rasanya aku mendapatkan peluang itu. Akan tetapi begitulah Allah menetapkannya.

Setelah melalui berbagai rintangan dalam keberangkatanku, Alhamdulillah akhirnya akupun sampai ke Turky. Disinilah aku memulai kehidupan baru di negera yang jauh berbeda dengan Negara asalku. Pada waktu itu aku juga tidak lupa untuk memberitahukan ke saudariku ini bahwa aku sudah berada di Turky dan tetunya juga tidak lupa memberikan no hpku di Turky.

Komunikasiku dengan dia juga masih tetap berlanjut. Bahkan sering kali aku mengundang dia agar mau berjaulah ke Turky. Banyak hal yang aku sampaikan kepadanya untuk menambah keyakinannya untuk pergi ke Turky. Semua itu juga tak lepas dari pertemuanku dengan student2 dari Malaysia yang study di Mesir kala itu. Sehingga semakin menguatkan argumentasiku untuk menginvite dia datang ke Turky.

Scenario Allah pun berlaku, akhirnya kira-kira di akhir tahun 2009 saudariku syahidah bersama kawan lainnya mempunyai keinginan untuk rihlah ke Istanbul. Pastinya berita itu disampaikan padaku dan meminta bantuanku untuk kesuksesan perjalanan di Istanbul. Akupun berusaha untuk mengumpulkan informasi yang nantinya dibutuhkan.

Kemudian, hari demi haripun berlalu sehingga menjelang hari keberangkatannya ke Istanbul, aku diberitahukan kalau yang mau datang berjumlah belasan orang.  Aku membayangkan bahwa yang akan datang semuanya akhwat, terus aku pun berfikir juga karena selama ini belum pernah menjadi guide untuk akhwat. Disamping itu juga aku tidak terbiasa komunikasi langsung dengan akhwat.

Namun, beberapa hari kemudian aku dikabari kalau mereka sudah menghubungi salah seorang ikhwah Malaysia yang ada di Istanbul dan dia adalah bro Fairuz. Setelah mengetahui bahwa Fairuz yang akan membantu perjalanan mereka, aku langsung saja melimpahkan semuanya ke dia. Karena aku kenal betul dengan akh Fairuz, dia memang sudah terbiasa membawa tamu-tamu yang datang dari Malaysia.

Untuk meyakinkan diri akupun bertanya kepada akh Fairuz hal ikhwalnya. Kemudian aku pun memposisikan diri sebagai pendukung akh Fairuz saja, karena aku yakin bahwa akh Fairuz bisa menghandle semuanya.

Singkat kata, rombongan ukhti Syahidah dan kawan-kawanpun tiba di Istanbul pada tanggal 28 januari 2010 di pagi hari. Saat itu di Istanbul memang sedang turun salju, sehingga cuacanya agak dingin.

Ketika aku mendapatkan kabar bahwa mereka sudah tiba, akupun bergegas untuk bertemu dengan mereka semua untuk mengucapkan hoş geldınız/selamat datang di kota Istanbul. Akhirnya aku bertemu dengan ukhti Syahidah dan rombongan di dalam mesjid biru.

Terus terang saja waktu pertama masuk ke dalam mesjid dan memberi salam ke rombongan semua, aku merasa agak canggung dan agak sedikit grogi. Kerana kebanyakan dari rombongan itu adalah akhwat dan yang sangat membuat aku terharu adalah semua mereka berbusana muslimah sesuai dengan yang sebenarnya dan diantara mereka juga ada yang mengenakan cadar.

Sungguh aku sangat appreciate dengan pemandangan yang aku lihat. Betapa tidak, selama ini rombongan dari Indonesia yang aku dampingi hampir semuanya kacau dari segi berpakaian. Bahkan kebanyakan dari mereka sama sekali tidak memakai jilbab, dan ada yang lebih parah lagi bahwa kebiasaan mereka yang tidak islami.

Maaf saja diantara mereka ada yang meminta aku untuk menterjemahkan keinginannya yang ingin meminum raki. Raki merupakan minuman alcohol yang cukup terkenal di Turky. Memang sungguh berbeda sekali dengan rombongan akhwat-akhwat dari Malaysia yang satu ini Alhamdulillah.

Setelah berjumpa dengan mereka semua kemudian akh Fairuz juga mengharapkan aku untuk bergabung dengan rombongan. Hampir   seharian bersama mereka akan tetapi aku belum tau ukhti Syahidah itu yang mana dan aku juga tidak berani untuk bertanya serta aku juga tidak terbiasa untuk berkomunikasi jarak dekat dengan akhwat-akhwat.

Setelah seharian bersama mereka barulah aku tahu ukhti syahidah itu yang mana, itupun ketika ada acara perkenalan sebelum kuliah umum menjelang magrib yang diberikan oleh salah seorang ustaz di sebuah lembaga kebudayaan.

Akan tetapi aku tetap saja tidak berani berkata apapun dengan si ukhti hingga aku berpisah dengan mereka setelah semua agenda pada hari itu telah selesai. Sebelum berpisah aku memberanikan diri untuk memberikan hadiah yang memang sejak beberapa hari sebelumnya sudah dipersiapkan.

Memang tidak terlalu berarti mungkin buat dia, namun itulah yang dapat aku berikan pada waktu itu. Diantaranya aku memberikan bingkisan dari Aceh berupa broch tuk digunakan dgn jilbabnya. Itu semua dikarenakan dulu dia pernah mengatakan kepadaku kalau dia pingin berkunjung ke Aceh.

Kemudian aku juga menyelipkan dengan alquran kecil yang aku dapatkan dari kota Konya. Kota ini sendiri merupakan daerah yang cukup terkenal di Turky, karena di tempat inilah maulana Jalaluddin rumi seorang ahli sufi yang sangat terkenal dimakamkan. Sehingga daerah ini juga merupakan basis islam kuat di Turky.

Tujuan ku menghadiahkan alquran juga kerana aku tahu bahwa dia adalah seorang hafizah yang menghafal alquran, dan aku mengharapkan agar dia tetap menjaga alquran berada dalam dirinya dan juga menjadi kepribadiannya.

Rihlah pun berakhir dan kini tibalah saatnya si ukhti dan rombongan untuk kembali ke Jordan dan aku juga berharap bisa mengantarkannya sampai di bandara Ataturk. Setelah semua itu berlalu, barulah aku berfikir bahwa inilah rahasia tuhan terhadap perjalanan hidup seorang hambanya.

Betapa tidak, tidak pernah terbayangkan dalam fikiranku kalau aku bisa berjumpa dengan ukhti Syahidah di Istanbul. Padahal dulunya kami berkenalan hanya di internet sewaktu kami sama-sama masih berada di Negara kami masing-masing.

Setelah pertemuan ini akupun tidak tahu apakah akan bertemu dengan dia kembali atau tidak dan kalau iya lalu dimana kami akan berjumpa kembali?!!! Yang pasti semua itu masih merupakan rahasia tuhanku….dan kisah ini hanyalah contoh kecil dari sebuah takdir Allah terhadap hambanya. Akhir kata aku hanya ingin mengucapkan selamat jalan wahai saudara/saudariku semuanya semoga Allah terus melimpahkan rahmat dan karunianya kepada kita semua dan semoga kita tetap menjadi penyinar agama ini dimanapun kita berada. Allaha ısmarladık…..sampaı berjumpa lagı dilain waktu dan kesempatan dan jangan lupakan daku dalam setiap doamu J

Wassalam, Ahmed as-simpuli

Tobe continue………inshaallah

Not: Nama2 yang tercantum dalam tulisan ini bukan nama asli.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: